Kamis, 20 Maret 2014

AKU DAN KOPI

Berbicara tentang kopi memang tak ada habisnya, ia selalu mambawa peminumnya kemana saja sesuai imajinasi bahwa ia sedang bahagia. Sudah lama aku mengenal kopi ini, entah sejak kapan aku mulai menyukainya?, lupakan tentang tanda tanya itu karena sekarang dan kedepan adalah pilihan bahwa perasaan saya menyukainya. Dirumah memang punya kebun kopi yang diberi oleh ayahku, tak luas tetapi jika sudah masa panen setidaknya tetangga-tetangga tak perlu beli kopi dan sisanya aku jual karena entah mengapa ada yang mau beli. Dari sini aku mulai belajar bagaimana cara membuat kopi dari masa panen sampai bisa dinikmati, guruku adalah pengalaman dan kegagalan. Dari masa panen, pengelupasan, fermentasi yang sering gagal, pengeringan, dan peyangraian(roasting) yang paling banyak gagal karena disini pengalaman berbicara dimana cita rasa kopi diciptakan, selanjutnya adalah pengilingan, tahap akhir proses pembuatan kopi.

Hampir setiap hari saya selalu berteman dengan secangkir kopi dan tak lupa dengan temannya yaitu asap rokok, entahlah mengapa aku menyukai kedua hal ini yang menurut beberapa orang tidak sehat untuk tubuh. Biarlah orang berbeda keyakinan, aku mempunyai Gusti Allah dalam diriku yang selalu menjagaku, semua adalah kehendakNYa. Kopi adalah segala inspirasi gila dalam pikiranku, ahh mengingatkan kuliah yang sering membawa secangkir kopi kedalam kelas, iya aku memang sering begitu, sesuatu yang aneh bagi seorang mahasiswa, aku hanya takut kalau teman-teman sekelas itu kepingin karena aku bisa mendadak pelit. Di kampusku membawa minuman kedalam kelas itu boleh asal jangan membawa makanan kedalam kelas, dimanapun aku kalau sedang ingin pasti minum kopi, Kopi ini memang aneh ia memunculkan inspirasi, ketenangan, kesenangan dalam diriku, ia adalah mood booster bagiku.

Kopi tanpa gula adalah yang paling aku suka pahit dan pekat sehingga butuh waktu lama untuk menghabiskanya dan tanpa terasa rokok sudah habis begitu saja, Kopi tanpa rokok entah mengapa menjadi pasangan serasi bagai nasi tanpa lauk, tak bisa terpisahkan. Sebenarnya aku sudah berusaha memisahkan keduanya yaitu berhenti merokok selama 8bulanan, eh lebih tepatnya pingsan merokok. Tapi karena galau masalah ”klasik”  rokok itu kembali sadar. Tak apalah sekarang ialah temanku dan kopiku.

Kesukaanku pada kopi ini memunculkan angan-angan suatu saat mempunyai kedai kopi sendiri, dimana aku bisa berbagi kepada semua orang, bahwa kesukaanku pada kopi ini bisa juga dinikmati dan membahagiakan orang lain lebih banyak selain tetangga dirumah.

Sekian dulu ceritaku tentang kopi, lain waktu aku lanjutkan lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar