Berbicara tentang kopi memang tak ada
habisnya, ia selalu mambawa peminumnya kemana saja sesuai imajinasi bahwa ia
sedang bahagia. Sudah lama aku mengenal kopi ini, entah sejak kapan aku mulai
menyukainya?, lupakan tentang tanda tanya itu karena sekarang dan kedepan adalah
pilihan bahwa perasaan saya menyukainya. Dirumah memang punya kebun kopi yang
diberi oleh ayahku, tak luas tetapi jika sudah masa panen setidaknya
tetangga-tetangga tak perlu beli kopi dan sisanya aku jual karena entah mengapa
ada yang mau beli. Dari sini aku mulai belajar bagaimana cara membuat kopi dari
masa panen sampai bisa dinikmati, guruku adalah pengalaman dan kegagalan. Dari masa
panen, pengelupasan, fermentasi yang sering gagal, pengeringan, dan
peyangraian(roasting) yang paling
banyak gagal karena disini pengalaman berbicara dimana cita rasa kopi
diciptakan, selanjutnya adalah pengilingan, tahap akhir proses pembuatan kopi.
Hampir setiap hari saya selalu
berteman dengan secangkir kopi dan tak lupa dengan temannya yaitu asap rokok,
entahlah mengapa aku menyukai kedua hal ini yang menurut beberapa orang tidak
sehat untuk tubuh. Biarlah orang berbeda keyakinan, aku mempunyai Gusti Allah dalam
diriku yang selalu menjagaku, semua adalah kehendakNYa. Kopi adalah segala
inspirasi gila dalam pikiranku, ahh mengingatkan kuliah yang sering membawa
secangkir kopi kedalam kelas, iya aku memang sering begitu, sesuatu yang aneh
bagi seorang mahasiswa, aku hanya takut kalau teman-teman sekelas itu kepingin
karena aku bisa mendadak pelit. Di kampusku membawa minuman kedalam kelas itu
boleh asal jangan membawa makanan kedalam kelas, dimanapun aku kalau sedang ingin pasti minum kopi, Kopi ini memang aneh ia memunculkan inspirasi,
ketenangan, kesenangan dalam diriku, ia adalah mood booster bagiku.
Kopi tanpa gula adalah yang paling
aku suka pahit dan pekat sehingga butuh waktu lama untuk menghabiskanya dan
tanpa terasa rokok sudah habis begitu saja, Kopi tanpa rokok entah mengapa menjadi
pasangan serasi bagai nasi tanpa lauk, tak bisa terpisahkan. Sebenarnya aku
sudah berusaha memisahkan keduanya yaitu berhenti merokok selama 8bulanan, eh lebih tepatnya pingsan merokok. Tapi karena
galau masalah ”klasik” rokok itu kembali sadar. Tak apalah sekarang
ialah temanku dan kopiku.
Kesukaanku pada kopi ini memunculkan
angan-angan suatu saat mempunyai kedai kopi sendiri, dimana aku bisa berbagi
kepada semua orang, bahwa kesukaanku pada kopi ini bisa juga dinikmati dan membahagiakan
orang lain lebih banyak selain tetangga dirumah.
Sekian dulu ceritaku tentang kopi,
lain waktu aku lanjutkan lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar